LANGIT MERAH JAMBU
oleh
Diah Ayu Candra
Dewi
Adalah Engkau yang
menjadikan nafas ini ada. Dan melalui mereka Engkau menitipkanku. Allahumaghfirli waliwalidaya
warhamhuma kamarobayani sagiroh. Duhai Allah Yang Maha Indah kutitipkan segenggam
rinduku untuknya.
*****
Akibat sudah sering
terkena banjir, pintu kayu bercat coklat itu keropos hingga tidak bisa ditutup
dengan rapat apalagi untuk dikunci. Saat aku harus pergi meninggalkan rumah,
aku hanya mempercayakan rumahku pada tante Sum.
Saatku kembali. Aku
hanya diam mematung memandangi pintu itu, mencoba menerka apa yang sudah
terjadi di dalamnya. Kupegang gagang pintunya. Dengan ragu kucoba beranikan
diri untuk melihatnya.
Wow…
“Pasti banyak cacing. Pasti cacingnya besar-besar. Aku benci cacing…” Risau
ini kubisikkan pada angin, kuharap ia menyampaikannya pada mereka.
Seperti yang kuduga, banjir sudah memasuki rumah. Airnya hampir mencapai
lutut hingga membasahi seragam putih abu-abuku. Aku diam, menangis. Bukan
karena banjir ini. Tapi mereka.








