Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 Juni 2014

Cerpen - Langit Merah Jambu



LANGIT MERAH JAMBU
oleh
Diah Ayu Candra Dewi

                Adalah Engkau yang menjadikan nafas ini ada. Dan melalui mereka Engkau menitipkanku. Allahumaghfirli waliwalidaya warhamhuma kamarobayani sagiroh. Duhai Allah Yang Maha Indah kutitipkan segenggam rinduku untuknya.
*****
                Akibat sudah sering terkena banjir, pintu kayu bercat coklat itu keropos hingga tidak bisa ditutup dengan rapat apalagi untuk dikunci. Saat aku harus pergi meninggalkan rumah, aku hanya mempercayakan rumahku pada tante Sum.
                Saatku kembali. Aku hanya diam mematung memandangi pintu itu, mencoba menerka apa yang sudah terjadi di dalamnya. Kupegang gagang pintunya. Dengan ragu kucoba beranikan diri untuk melihatnya.
Wow…
“Pasti banyak cacing. Pasti cacingnya besar-besar. Aku benci cacing…” Risau ini kubisikkan pada angin, kuharap ia menyampaikannya pada mereka.
Seperti yang kuduga, banjir sudah memasuki rumah. Airnya hampir mencapai lutut hingga membasahi seragam putih abu-abuku. Aku diam, menangis. Bukan karena banjir ini. Tapi mereka.

Minggu, 01 Juni 2014

Cerpen-Uwie


Uwie
oleh Ahmad Muzani

Lihatlah mutiara itu tertebar ke segala arah, bergumul bersama debu jalanan. Menjadi rias peluh bagi para pemulung, pengasong, petani, pendidik, dan pejalan-pejalan kehidupan lainnya. Rasakan makna kilaunya dengan pandangan yang lebih menyeluruh dan komprehensif. Karena keindahan tidaklah harus berbatas pada kediriaan objek itu semata, melainkan juga pada kesemuaan subyek-subyek nilai yang memungkinkannya disebut sebagai sebuah  keindahan.
Matahari memancarkan terik sinarnya untuk kita mainkan dengan segala bentuk gerak bayang. Kita berhak menarikan sesuka dan sebebas-bebasnya hati, asalkan tidak saling menyikut dan berebut, karena pancaran sinar sang matahari akan tetap terlimpah untuk kita semua, sepanjang gerak hidupmu tidak terpenjara oleh ruang kedzaliman yang menistakan kepada sesama manusia.
Uwie selalu menghadapi pagi dengan penuh keberanian, seolah-olah ia ingin menantang matahari, ia yang harus menemui dan melihat dunia sebelum matahari melepaskan pelukan kepada rembulan. Ia sudah menerbitkan kediriannya sebelum dibayangioleh pijar matahari pagi. Dinikmatinya gelayut embun dikuncup daun, diheningkannya suara burung-burung dan serangga, agar ia dapat lebih merdeka membebaskan irama-irama batin dan menerbangkannya dilangit-langit kehidupan, yang memang terhampar luas untuknya.
“Uwie berangkat  bu!” Seru uwie kepada ibunya.
Sang ibu menghampiri sambil bertanya tentang ketidakbiasaan berangkat kuliah sepagi ini.
“Oh, uwie hanya ingin menikmati udara pagi diperjalanan bu, agar tidak tergesa-gesa menanti jadwal perkuliahan hari ini.” Senyumnya menyimpul sempurna, menggoda ibu untuk turut tersenyum pula mendengar penjelasan puteri tercinta. Diciumnya dengan penuh ketakziman punggung tangan ibu, lalu berjalan santai meninggalkan rumah, menuju tempat dimana semua harapan-harapan sang ibu dititipkan untuk diwujudkan, siapa yang mewujudkan? Hanya kedirian Uwie yang mampu menjawabnya.