Tampilkan postingan dengan label Lorong. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lorong. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 Juni 2014

Lika-Liku yang Membuahkan Hasil



           
            Setiap ada kemauan pasti ada jalan, Beni yang merupakan mahasiswa di STBA LIA semester 1 Prodi Sastra Inggris telah membuktikannya. Dia masuk STBA LIA pada tahun 2013, kampus yang tergolong mahal menurutnya, dengan beasiswa dari KEMENDIKBUD Full. Dia merupakan salah satu anak yang berasal dari keluarga yang kurang mampu, ayahnya hanya seorang buruh serabutan yang tak tentu penghasilannya, dengan bermodalkan tekad dan keberanian akhirnya Beni pun berada di STTBA LIA.



          Putra dari pasangan Hartu dan Asna (alm) mencoba peruntungannya di Yogyakarta  setelah lulus SMA, Dia berpikir jika mencari kerja ke pabrik-pabrik dia pasti mengeluarkan biaya, sedangkan Dia tidak punya uang yang cukup. Dengan membawa uang sebanyak Rp. 75.000 saja hanya cukup untuk tiket kereta dan makan sehari, dari situ Beni mulai petualangannya.

Cerpen - Langit Merah Jambu



LANGIT MERAH JAMBU
oleh
Diah Ayu Candra Dewi

                Adalah Engkau yang menjadikan nafas ini ada. Dan melalui mereka Engkau menitipkanku. Allahumaghfirli waliwalidaya warhamhuma kamarobayani sagiroh. Duhai Allah Yang Maha Indah kutitipkan segenggam rinduku untuknya.
*****
                Akibat sudah sering terkena banjir, pintu kayu bercat coklat itu keropos hingga tidak bisa ditutup dengan rapat apalagi untuk dikunci. Saat aku harus pergi meninggalkan rumah, aku hanya mempercayakan rumahku pada tante Sum.
                Saatku kembali. Aku hanya diam mematung memandangi pintu itu, mencoba menerka apa yang sudah terjadi di dalamnya. Kupegang gagang pintunya. Dengan ragu kucoba beranikan diri untuk melihatnya.
Wow…
“Pasti banyak cacing. Pasti cacingnya besar-besar. Aku benci cacing…” Risau ini kubisikkan pada angin, kuharap ia menyampaikannya pada mereka.
Seperti yang kuduga, banjir sudah memasuki rumah. Airnya hampir mencapai lutut hingga membasahi seragam putih abu-abuku. Aku diam, menangis. Bukan karena banjir ini. Tapi mereka.

Minggu, 01 Juni 2014

Progam Televisi dan Karakter Anak Bangsa


PROGRAM TELEVISI DAN KARAKTER ANAK BANGSA
oleh Feby Utami

Jika kita melihat program atau acara-acara yang ada di dunia pertelevisian Indonesia sekarang, apa yang akan kita katakan? Masih tetap berkualitaskah acara-acara di televisi itu? Mengandung edukasikah acara-acara di sana? Dan amankah acara tersebut ditonton oleh anak-anak, saudara-saudara, adik-adik, bahkan diri kita sendiri?
Kecewa, itulah yang akan saya katakan melihat dunia pertelevisian di Indonesia sekarang. Pertelevisian Indonesia sekarang ini dapat dikatakan sedang terpuruk parah. Kenapa? Karena program-program yang mereka sajikan bukan hanya berisikan tentang hinaan antar pemain yang mengisi acara tersebut. Bahkan membuka rahasia atau aib orang lain. Bahasa yang mereka gunakan pun jauh dari kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar. Tetapi, masyarakat Indonesia tidak memedulikan hal ini. Justru mereka menyukainya. Terbukti dengan meningkatnya rating program-program tersebut. Yang penting bagi mereka adalah acara tersebut dapat membuat mereka terhibur. Walaupun hal yang dilakukan oleh mereka pengisi acara ataupun tayangan tersebut melanggar berbagai norma yang berlaku dalam masyarakat.
Bukankah di Indonesia ada sebuah lembaga yang berperan penting dalam pengawasan penyiaran? Ya, di Indonesia ada Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Lalu pertanyaannya, bagaimana peran atau kinerja KPI melihat kondisi pertelivisian Indonesia yang benar-benar sedang terpuruk ini? Bukan menghentikan tayangan tersebut, tetapi yang terlihat KPI hanya sekedar menegur beberapa program yang melanggar ketentuan penyiaran itu. Namun, teguran tersebut hanya sekedar menjadi “angin lalu”. Buktinya, hingga kini masih banyak program yang melanggar nilai-nilai. Justru bertambah banyak. Dan program-program yang memiliki unsur pendidikan atau edukasi kini perlahan semakin menghilang.

Cerpen-Uwie


Uwie
oleh Ahmad Muzani

Lihatlah mutiara itu tertebar ke segala arah, bergumul bersama debu jalanan. Menjadi rias peluh bagi para pemulung, pengasong, petani, pendidik, dan pejalan-pejalan kehidupan lainnya. Rasakan makna kilaunya dengan pandangan yang lebih menyeluruh dan komprehensif. Karena keindahan tidaklah harus berbatas pada kediriaan objek itu semata, melainkan juga pada kesemuaan subyek-subyek nilai yang memungkinkannya disebut sebagai sebuah  keindahan.
Matahari memancarkan terik sinarnya untuk kita mainkan dengan segala bentuk gerak bayang. Kita berhak menarikan sesuka dan sebebas-bebasnya hati, asalkan tidak saling menyikut dan berebut, karena pancaran sinar sang matahari akan tetap terlimpah untuk kita semua, sepanjang gerak hidupmu tidak terpenjara oleh ruang kedzaliman yang menistakan kepada sesama manusia.
Uwie selalu menghadapi pagi dengan penuh keberanian, seolah-olah ia ingin menantang matahari, ia yang harus menemui dan melihat dunia sebelum matahari melepaskan pelukan kepada rembulan. Ia sudah menerbitkan kediriannya sebelum dibayangioleh pijar matahari pagi. Dinikmatinya gelayut embun dikuncup daun, diheningkannya suara burung-burung dan serangga, agar ia dapat lebih merdeka membebaskan irama-irama batin dan menerbangkannya dilangit-langit kehidupan, yang memang terhampar luas untuknya.
“Uwie berangkat  bu!” Seru uwie kepada ibunya.
Sang ibu menghampiri sambil bertanya tentang ketidakbiasaan berangkat kuliah sepagi ini.
“Oh, uwie hanya ingin menikmati udara pagi diperjalanan bu, agar tidak tergesa-gesa menanti jadwal perkuliahan hari ini.” Senyumnya menyimpul sempurna, menggoda ibu untuk turut tersenyum pula mendengar penjelasan puteri tercinta. Diciumnya dengan penuh ketakziman punggung tangan ibu, lalu berjalan santai meninggalkan rumah, menuju tempat dimana semua harapan-harapan sang ibu dititipkan untuk diwujudkan, siapa yang mewujudkan? Hanya kedirian Uwie yang mampu menjawabnya.

Sabtu, 31 Mei 2014

Puisi-Sahabatku


SAHABATKU 
Diah Fauziyyah

Aku telah mengenal lengkap semua tentangmu
Kebaikanmu yang terlihat mata
Dan kekuranganmu yang terlindung dalam kalbu
Yang semuanya telah tertutur lewat kebersamaan dan waktu

Aku menyadari ketidak sempurnaanmu
Sebagai kodrat ilahi yang takkan tertawar lagi
Dan aku mensyukuri kehadiranmu
Yang telah menemani manis perih hidup ini

Kita bukannya tidak terpisah
Tapi artimu bagiku tak tertukar harga
Mungkin bila tiba waktunya kita akan punya jalan sendiri
Tapi teman sepertimu tak akan terganti

Meski aku tak pernah mengatakannya
Tapi aku menyayangimu dengan sebenarnya
Meski aku tak pernah menilainya
Tapi bagiku kau sangat berharga
Untukmu sahabatku....

                                                                          2014



Rabu, 28 Mei 2014

Bazar Ramaikan Kampus FKIP UNSWAGATI


 
           Cirebon Kampus 2 Unswagati, Jl. Perjuangan No. 1 diserbu mahasiswa yang siap menyantap aneka jajanan yang tersaji di pelataran parkir kampus. Tidak seperti biasa area parkir kampus disulap seperti pasar. Sejumlah penganan dan barang lainnya seperti jilbab dan asesoris tersedia di sini. Untuk kali pertama BEM FKIP Unswagati menyelenggarakan bazar dengan tujuan melatih mahasiswa FKIP untuk berwirausaha, Rabu (28/5).

Seminar Kesusastraan Tutup Pekan DIKSATRASIA



            Cirebon - Seminar sastra dengan tema “Peran Sastra Cirebon terhadap Sastra Nasional”  telah menutup rangkaian acara Pekan Diksatrasi 2014 dengan sukses, Sabtu  (24/5) di kampus II FKIP Unswagati. Acara ini diikuti oleh seluruh mahasiswa Diksatrasia dengan pembicara seminar Supali Kasim, Sastrawan sekaligus dosen sastra Unswagati.

Senin, 26 Mei 2014

Puisi - Tulislah




Tulislah
Mohamad Royan
 
kalau kau ingin
tulislah ceritamu
aku menunggunya
juga anak cucumu
supaya kita baca bersama
supaya kami  mengenalmu
supaya kita tahu waktu itu
jika kau masih ragu-ragu
aku pun begitu, waktu itu
tapi lihatlah sekarang
aku memulainya!

                                    2014

Hasil Pengumuman Pemenang Lomba Pekan DIKSATRASIA



Cirebon  - Pekan Diksatrasia 2014 yang diadakan HMJ Diksatrasia akhirnya resmi ditutup oleh Dekan FKIP Unswagati, Prof. DR. H. Abdul Rozak, M.Pd.,Sabtu (24/5) di kampus 2 Unswagati Cirebon. Rangkaian acara tersebut diakhiri dengan pengumuman lomba Pekan Diksatrasia. Beragam lomba yang diadakan dalam kegiatan ini dari membaca puisi, menulis berita, drama, dan lain-lain.

Sabtu, 24 Mei 2014

Testimonium

Assalamualaikum Wr. Wb.

Salam sejahterah bagi kita semua. Kami berharap apa yang kita lakukan di sini menjadi ibadah dan bermanfaat bagi manusia lainnya maupun lingkungan. Tahukah anda?  Jalan yang sempit, demikian orang menyebutnya dengan Lorong. Ya, tidak banyak orang yang berani melaluinya. Alasannya beragam bisa karena lebar jalan yang tidak memadai, bisa juga karena lorong identik dengan gelap. Masing-masing orang bebas memilih jalan yang ingin dilaluinya. Tapi tahukah Anda nyatanya lorong sering menjadi tempat manusia berlindung. Bahkan Nabi Ibrahim AS dilahirkan di sebuah lorong dalam gua oleh ibunda agar terhindar dari kebengisan raja Namrud. Sama halnya di masa perang Vietnam dan Amerika tahun 1946-1975, tentara Vietnam sengaja membangun sebuah terowongan dengan lorong bawah tanah yang amat sempit bernama Chu Chi. Di tempat inilah mereka bersembunyi dan menyusun strategi melawan musuh. Menariknya lorong tersebut selalu bermuara pada permukaan daratan yang penuh dengan gemerlap cahaya raja siang, semilir angin yang menyejukan yang sontak menghadirkan rasa optimis. Lorong sejatinya simbol keberanian. Ya, keberanian menemukan jawaban atas pertanyaan yang timbul di pikiran dan hati manusia. Lorong pun representasi rasa optimis akan hidup bahwa sesulit apa pun yang dilalui selalu ada kebahagian yang menanti. Selamat datang LORONG, semoga mampu memberi inspirasi dan semangat bagi yang lain.

Wassalamualaikum Wr. Wb.